Saturday, October 13, 2012

Lhokseumawe, Sejarah dan Kenangan yang Terlupakan

Kota adalah sebuah karya manusia yang dimanfaatkan oleh manusia dalam hidupnya untuk menjalankan segala macam aktifitas dengan segala macam sarana dan prasarana. Kota menjadi sebuah wadah bagi pluralitas kemanusian yang kompleks dan terkadang juga penuh kontradiksi. Kota harus mempunyai tata ruang yang strategis, agar fungsi kota dapat dinikmati bagi seluruh penghuninya baik secara geografisnya, maupun secara fungsionalitas fasilitas yang terdapat dalam kota tersebut.

Banyak parameter dan variabel yang mempengaruhi perubahan keadaan dan kebutuhan sebuah kota. Salah satunya adalah perubahan kehidupan sosial dari masyarakat yang hidup didalamnya. Saat masyarakat merasa bahwa perubahan kehidupan dan kebutuhan itu menjadi sebuah keharusan, maka sebuah Kota pun mau tidak mau akan mengikuti arus perubahan yang terjadi di kehidupan sosial masyarakatnya.

Huff bahasanya…..





Lhokseumawe, selintas gak ada yang spesial dari kota kecil yang dikelilingi air ini, dengan luas sekitar beberapa km persegi dan hanya punya 5 kecamatan, praktis kehidupannya pun biasa aja..tapi dalam hidup saya, 17 tahun mengabdi pada kota tempat sebuah cita-cita diacungkan, tempat sebuah pelabuhan cinta didermagakan, tempat sebuah tongkat harapan ditegakkan, dan tempat sebuah penghuni sasana hati kini kutinggalkan.. Sangat tidak mungkin, semua kenangan di kota Lhokseumawe terlupakan, setiap langkah di sisi kota mempunyai memori, setiap jengkal tanah yang dipandang punya arti yang dalam.. oke, cukup nostalgia kita, untuk urusan Lhokseumawe, Penulis tak harus menjadi Sang Pemimpi

Banda Aceh udah diceritain tiap sudut sejarahnya, Sabang juga udah dijelajahi tiap titik objek wisatanya, Lamno dengan pesona serba birunya (hhe..) juga udah disimpan dalam hardisk 120 G kepunyaan Dell Biru ini.. Sekarang saatnya menjelajahi Lhokseumawe, kota Petrodolar yang kini tengah beranjak dewasa menjadi kota perdagangan.





Lhokseumawe, Kota yang kalo diliat di peta, berbentuk seperti palung laut, seperti teluk dan cocok banget bagi pelabuhan. Sepanjang kota Lhokseumawe dikeliling air, mulai dari Banda Sakti, sampai Ujong Blang, Pusong dan Cunda, hanya jembatan cunda aja yang menghubungkan kota Lhokseumawe dengan daratan Sumatera, makanya nama Lhokseumawe pun diambil dari keadaan geografis ini, Lhok yang artinya teluk, dan Seumawe menggambarkan banyaknya mata air di sepanjang garis pantai yang mengelilingi kota. Kampung yang paling tua di kota ini adalah Uteun Bayi, dan yang terluas adalah Teumpok Teungoh (waktu alis masih di lhokseumawe, hhe). Nama Lhokseumawe sendiri sempat berubah-ubah, pas jaman masih masuk dalam Mukim Kutablang abad 20, kota Lhokseumawe mulai menjadi jajahan belanda, banyak sisa sisa peninggalan belanda seperti SMU 1, SLTP 1, Kodam dan Kodim, Kantor Imigrasi dan BI, Bank Mandiri Merdeka, Pelabuhan Pardede, dan lain-lain masih banyak dapat dijumpai, kecuali SMU 1 yang sudah dirombak habis-habisan oleh pengembang….SMU 1 Lhokseumawe, tinggal kenangan…haha….

Tahun 1903, nama Lhokseumawe diubah menjadi Bestuur van Lhokseumawe, dengan kepala daerahnya Teuku Abdul Lhokseumawe tunduk dibawah Aspiran Controeleur dan di Lhokseumawe berkedudukan juga Controleur atau Wedana serta Asisten Residen atau Bupati. Pada dasawarsa kedua abad ke 20 itu, diantara seluruh daratan aceh, salah satu pulau kecil dengan luas sekitar 11 km2 (ibukota Lhokseumawe sekarang) yang dipisahkan sungai Krueng Cunda diisi bangunan-bangunan Pemerintah Umum, Militer dan Penghubungan Kereta Api oleh Pemerintah Belanda. Pulau Kecil dengan desa-desa kampung Keude Aceh, Kampung Jawa, Kampung Kutablang, Kampung Mon Geudong, Kampung Teumpok Teungoh, Kampung Hagu, Kampung Uteun Bayi dan Kampung Ujong Blang dan keseluruhan baru berpenduduk 5.500 jiwa, secara jamak disebut Lhokseumawe. Bangunan demi bangunan mengisi daratan ini sampai terwujud embrio kota yang memiliki pelabuhan, pasar, stasiun kereta api dan kantor-kantor lembaga Pemerintahan. Masa penduduk Jepang, Zelf Bestuurder Lhokseumawe tidak lagi dipegang Maharaja, tetapi mulai tahun 1942 s/d 1946 dipegang putranya Teuku Baharuddin.

Sejak Proklamasi kemerdekaan, Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia belum terbentuk sistematik sampai kecamatan ini. Pada mulanya Lhokseumawe digabung dengan Bestuurder van Cunda. Penduduk didaratan ini semakin ramai berdatangan dari daerah sekitarnya seperti Buloh Blang Ara, Matangkuli, Lhoksukon, Blang Jruen, Nisam dan Cunda serta Pidie dan menjadi bagian dari Kabupaten Aceh Utara.





Pada Tanggal 14 Agustus 1986 Pembentukan Kota Administratif (Kotif) Lhokseumawe dilakukan, sebagai awal pembentukan kotamadya Lhokseumawe yang digagas oleh Bupati Aceh Utara Karimuddin Hasybullah. Kemudian, pada tahun 2000 Bupati Aceh Utara, Tarmizi A. Karim, merekomendasi menjadi Kota Lhokseumawe tanggal 21 Juni 2001, yang ditandatangani Presiden RI H. Abdurrahman Wahid. Kemudian pada tanggal 17 Oktober 2001 diresmikan Pemko Lhokseumawe hingga sekarang..sejarah yang sangat panjang.
Lhokseumawe besar dan berkembang seiring berkembangnya industri di Aceh Utara, seperti Industri PT. Kertas Kraft Aceh(PT.KKA), PT. Pupuk Iskandar Muda, PT. Asean Aceh Fertilizer dan EXXON Mobil – Arun. Dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat dari pabrik-pabrik besar yang dimiliki kota Lhokseumawe, namun tak juga mampu mengangkat derajat kehidupan sebagian besar penduduk asli Lhokseumawe dari bawah garis kemiskinan.



Berdasarkan hasil penelitian Geologi Departemen Pertambangan dalam wilayah Kota Lhokseumawe terdapat bahan galian Golongan C berupa batu kapur, tanah timbun dan pasir/kerikil. Di samping itu terdapat juga sumber daya alam berupa gas alam yang pengolahannya dilakukan oleh PT. Arun NGL Co. Sumber daya alam tersebut sudah dieksplorasi sejak tahun 1975 oleh Mobil Oil Indonesia Inc (sekarang Exxon Mobil) di Kabupaten Aceh Utara yang selanjutnya dilakukan pengolahan untuk diekspor ke luar negeri, hasil pengolahan gas dimanfaatkan oleh Pabrik Aromatix yang dibangun tahun 1998 dan perusahan–perusahaan besar lainnya seperti pabrik pupuk.

Lhokseumawe satu-satunya kota yang punya 2 bandara di Aceh, bandara ExxonMobil dan Bandara Sultan Malikulsaleh, dan satu-satunya kota yang punya 2 perguruan tinggi di Aceh, Universitas Malikulsaleh dan Politeknik Negeri Lhokseumawe. Lhokseumawe kini tumbuh dan berkembang seiring banyaknya ruko-ruko yang dibangun sebagai imbas dari semakin sedikitnya sumber gas dan minyak bumi yang terkandung di Arun. Para penduduknya yang sebagian besar pendatang mulai banyak yang pulang kampung, seperti saya, hh… dan penduduk aslinya banyak yang mulai membuka usaha perdagangan jasa dan produk. Praktis kehidupan mewah ala kota petrodolar sudah mulai tidak tampak di Lhokseumawe. Lhokseumawe punya komplek perumahan yang banyak, setiap pabrik yang mengadakan produksinya di Lhokseumawe punya komplek perumahan untuk karyawannya, mulai dari Bukit Indah untuk Exxon Mobil, Komplek Arun, Komplek PIM, AAF, dan KKA. Tapi, karena sumber daya alam yang makin menipis, komplek-komplek perumahan itu pun ditinggalkan oleh penghuninya, seperti AAF, Bukit Indah, dan KKA. Awal mula metamorfsis sebuah kota yang dulu sangat mengagungkan minyak dan gas bumi ini, kini geliat masyarakat mulai beralih kepada industri perdagangan produk dan jasa, selain mata pencaharian Pegawai Negeri Sipil yang sangat populer tentunya..



Tempat wisata di Lhokseumawe gak sebanyak di kota Aceh lainya, Walikota Lhokseumawe Munir Usman mulai membangun pusat wisata kuliner, seperti pantai Semadu di Kecamatan Muara Satu atau pantai Ujong Blang di Kota Lhokseumawe. Lagi-lagi jangan bayangkan Ujong Blang dengan pantai wisata lain. Selain hanya berupa deretan pantai bekas dihajar tsunami, sarana prasarana wisata di tempat in terbatas untuk duduk menikmati jajanan. Sisanya hanya kecipak air, tapi ya lumayanlah, sekarang udah banyak tempat-tempat duduk menikmati sore di Pantai yang punya julukan “wc terpanjang di dunia ini”.







Topografi Lhokseumawe memang berbentuk daratan yang menjorok ke laut, sisi timur dan baratnya dikelilingi teluk dan arus sungai yang bermuara melalui jembatan Cunda. Jika ingin mengunjungi pantai berpasir putih, Anda bisa melancong ke Ulee Rubek di Desa Ulee Rubek Kec. Seunuddon, 50 km dari kota Lhokseumawe. Atau jika bosan dengan pantai, bisa juga berkunjung ke pemandian Krueng Sawang. Tempat ini adalah sungai yang airnya sangat jernih penuh dengan bebatuan, tempat ini merupakan pemandian yang ramai dikunjungi wisatawan. Udaranya yang sejuk, lingkungan yang masih alami, sangat layak dijadikan sebagai lokasi perkemahan. Daerah ini juga dikenal sebagai lokasi perkemahan. Daerah ini juga dikenal sebagai penghasil durian. Ada juga air terjun Blang Kolam di Desa Sidomulyo. Sayang butuh waktu khusus untuk menuju lokasi ini yang kabarnya dipenuhi burung-burung liar

Situs Pasee

Dari seluruh lokasi wiasata, rasanya kurang jika belum berkunjung ke situs kerajaan Samudera Pase. Kerajaan Islam di Aceh Utara itu adalah batu penjuru masuknya Islam ke Nusantara. Pengaruh kerajaan ini bahkan mencapai Asia Tenggara. Jika menuju tempat ini Anda bisa melanjutkan ke lokasi Pantai Sawang yang terletak di Desa Sawang Kecamatan Samudera. Disini terdapat makam Malikussaleh, Ratu Nahrisyah dan situs-situs makam petinggi kerajaan serta ulama ternama pada abad ke-13. Kejayaan yang dulu menjulang seakan pupus ditelan waktu.

Makam Malikulssaleh dan putranya Sultan Malikul Dhahir terletak di Gampong Beuringen Kec. Samudera ± 17 km dari Kota. Tidak jauh dari tempat itu, terdapat makan Ratu Nahrisyah. Pemimpin Kerajaan Samudera Pasai tahun 1416-1428 M. Makamnya terletak di Gampong Kuta Krueng Kecamatan Samudera. Hanya beberapa langkah ada makam Teungku Peuet Ploh Peuet (44) dikuburkan 44 orang ulama dari Kerajaan Samudera Pasai yang dibunuh karena menentang dan mengharamkan perkawinan raja dengan putri kandungnya. Dan jangan tanya perawatan makam-makam ini. Lhokseumawe adalah kota yang sangat tidak menghargai peninggalan sejarahnya….





Berdasarkan berita Marcopolo pada 1292 dan Ibnu Batutah. Pada 1267 telah berdiri kerajaan Islam pertama di Indonesia, yaitu kerajaan Samudra Pasai. Ini dibuktikan dengan batu nisan makam Sultan Malik Al Saleh raja pertama Samudra Pasai bertahun 1297. Kesultanan Samudera Pasai, juga dikenal dengan Samudera, Pasai, atau Samudera Darussalam, adalah kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe, Aceh Utara sekarang.

Kerajaan Samudra Pasai berdiri sekitar abad 13 oleh Nazimuddin Al Kamil, seorang laksamana laut Mesir. Pada 1283 Pasai dapat ditaklukannnya, kemudian mengangkat Marah Silu menjadi Raja Pasai pertama bergelar Sultan Malik Al Saleh (1285 – 1297). Makam Nahrasyiah Tri Ibnu Battutah, musafir Islam terkenal asal Maroko, mencatat hal yang sangat berkesan bagi dirinya saat mengunjungi sebuah kerajaan di pesisir pantai timur Sumatera sekitar tahun 1345 Masehi. Setelah berlayar selama 25 hari dari Barhnakar (Myanmar), Battutah mendarat di sebuah tempat yang sangat subur. Perdagangan di daerah itu sangat maju, ditandai dengan penggunaan mata uang emas.

Pada masa Sultan Malikul Dhahir, Samudera Pasai berkembang menjadi pusat perdagangan internasional. Pelabuhannya diramaikan oleh pedagang Asia, Afrika, Cina, dan Eropa. Selama abad 13 sampai awal abad 16, Samudera Pasai dikenal sebagai kota di wilayah Selat Malaka dengan bandar pelabuhan tersibuk. Bersamaan dengan Pidie, Pasai menjadi pusat perdagangan internasional dengan lada sebagai salah satu komoditas ekspor utama.

Pasai juga menjadi pusat perkembangan Islam di Nusantara. Kebanyakan mubalig Islam yang datang ke Jawa dan daerah lain berasal dari Pasai bahkan terjadi hubungan pernikahan. Sebut saja Sunan Kalijaga memperistri anak Maulana Ishak, Sultan Pasai. Sunan Gunung Jati alias Fatahillah yang gigih melawan penjajahan Portugis lahir dan besar di Pasai. Laksamana Cheng Ho tercatat juga pernah berkunjung ke Pasai. Sementara Fatahilah, ulama terkemuka Pasai menikah dengan adik Sultan Trenggono(raja Demak/adik Patih Unus/anak Raden Patah). Fatahilah berhasil merebut Sunda Kelapa (22 Juni 1522) berganti nama menjadi Jayakarta, juga Cirebon dan Banten.

Masyarakat Aceh Utara memiliki warisan budaya yang sangat menarik, yang pada umumnya berakar dari nilai - nilai ajaran Islam. Ini semua bisa dilihat dari berbagai aktifitas masyarakat dalam bidang seni budaya seperti tari - tariannya, upacara - upacara adat, tata krama pergaulan, hasil - hasil kerajinan, kesemuanya kental dengan nuansa Islami.



Masyarakat Aceh Utara sejak zaman dahulu hidup dibidang pertanian, perkebunan dan lainnya. Daerah Aceh Utara telah berkembang berbagai kesenian : seni tari, seni drama, seni sastra, sandiwara, seni ukur / pahat dan berbagai jenis kesenian lainnya. Tari Aceh diiringi dengan vokal suara dan ada kalanya dengan Rapai, Serune Kale, Canang. Seni tari di Aceh Utara sudah lama berkembang khususnya kesenian tradisional umumnya kesenian tradisional ini dilakukan pada malam hari maa bulan terang, setelah musim panen disawah selesai, biasanya semalam sampai pagi, jenis kesenian di Aceh Utara yang berkembang dan sangat di gemari seperti: Seudati / Saman, Rapai Pasai, Rapai Dabus, Rapai Lahee, Rapai Grimpheng, Rapai Pulot, Alue Tunjang, Poh Kipah, Biola Aceh, Meurukon, Sandiwara / Drama Aceh dan Hikayat Aceh. Dalam notes ini, saya gak akan membahas semua tarian ini, nanti saja di notes lainnya, hha..




Masyarakat Lhokseumawe kiranya perlu peduli dan menghargai kembali sejarah dan lingkungan alamnya, tidak hanya sibuk dengan pembangunan dan terlena dengan masa kejayaan minyak bumi dan gasnya.. jika tidak, Lhokseumawe hanya akan menjadi Kenangan yang Terlupakan, 


#IREKA SALSABILA

0 komentar: