Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Tuesday, October 23, 2012


Oleh: Aminatur Rohmah


Di sebuah kota kecil di jateng, tinggallah seorang ibu dan anak gadisnya disebuah rumah yang sederhana. Hanun, itu nama anak gadis yang kini sudah abg. Hanun baru kelas dua SMA. Dia sudah tidak punya ayah. Ayahnya meninggal waktu hanun berusia lima tahun. Sudah begitu dia sering kesepian karena gak punya saudara yang bisa di ajak main. Kehidupan mereka sederhana, ibunya bekerja dengan membuka warung makan kecil-kecillan, kadang hanun membuat kerajinan tangan dari barang bekas untuk menambah penghasilan.
“sudah nun, kalau capek kamu tidur dulu, besok berangkat pagi kan?” kata ibunya, sewaktu hanun membantu ibunya membereskan warung yang mau tutup.
“gak pa pa bu, hanun belum capek, masih pengen bantu ibu, dari pada gak ada kerjaan”
“ya sudah, tapi kalau lelah, jangan dipaksakan ya, ibu nggak mau sekolahmu terganggu”
“iya bu”
......................
Pagi harinya hanun berangkat sekolah dengan semangat seperti biasa.
“eh, nanti katanya jamnya bu elsa kosong” kata nina temennya hanun
“yang bener? Napa kosong?”
“kurang tau sih, kata ketua kelas sih gitu, nanti Cuma dikasih tugas merangkum”
“hehe,bagus deh” sekelas pasti seneng banget kalo bu elsa, guru paling galak itu tidak mengajar.
Waktu pulang sekolah, hanun melihat cewek yang kayaknya seumuran dia, cewek itu berjilbab, wajahnya seperti bercahaya dan tidak membosankan untuk terus menerus dilihat. Hanun merasa kagum, wanita itu seperti bidadari pikirnya. Dia suka melihat wanita itu. Entah kenapa tiba2 dia jadi pengen pake jilbab. Tapi dia segera bangun dari lamunannya. Dia sadar, untuk bayar uang sekolah aja kadang bisa kurang. Apalagi membeli segala keperluan untuk berjilbab. Tapi hanun tetap bertekad mewujudkan impiannya itu, dia ingin mencapainya dengan usahanya sendiri. Dia tidak tega meminta uang ibunya.
.............................
“mungkin gak ya aku bisa berjilbab dengan usahaku sendiri?” kata hanun dalam hati.
“aku harus lebih bekerja keras lagi mulai sekarang, harus!”
Sejak saat itu hanun semakin rajin membantu ibunya. Membuat kerajinan tangan, dan dia juga melamar menjadi penyiar radio distasiun radio daerahnya, setelah mengalami beberapa proses, akhirnya hanun diterima menjadi penyiar radio dan membawakan acara pada malam hari karena pagi,siang,sore dia harus sekolah dan membantu ibunya.
Dengan kerja kerasnya, hanun bisa mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, meskipun sekolah sambil bekerja, tapi nilainya tidak pernah jeblog. Karena hanun emang anak yang cerdas.
Kadang dia ingat ayahnya. “ayah pasti seneng kalo aku udah berjilbab” katanya dalam hati.
....................................
Setelah beberapa kali menabung dari hasil kerjanya. Akhirnya dia berhasil mengumpulkan uang yang lumayan banyak. Tanpa berpikir lama, dia langsung membeli apa yang dia butuhkan. Dia membeli barang2 kebutuhannya yang harganya terjangkau saja untuknya. Tidak terlalu banyak dan seperlunya saja.
Pada hari itu, hanun resmi berjilbab, waktu ibunya pulang, dia menemui ibunya untuk meminta pendapat dan memberitahu kalo dia akan berjilbab mulai sekarang. Itung2 sebagai kejutan untuk ibunya.
“bu, sekarang hanun mau berjilbab, menurut ibu bagaimana?”
“alhamdulillaaah, ibu senang sekaliii, jadi akhir2 ini kamu rajin bekerja agar bisa berjilbab? Kenapa tidak bilang sama ibu? Insya Alloh ibu kan bisa bantu”
“tapi, hanun kan pengen buat kejutan, hhehe”
“ayahmu pasti bangga” kemudian senyum mereka mengembang.
END
bagaimana menurut teman teman dengan Cerpen Islami - IMPIAN SEDERHANA ini? moga aja kalian suka dan mulai sekarang memakai jilbab agar tertutup auratnya hehe 
 
#Ireka Salsabila
»»  READMORE...

Pagi itu, aku terbangun dengan mata yang sembab dan membengkak. Semalam aku menangis di kamar sampai ketiduran. Entah berapa lama aku berderai air mata. Yah, aku baru saja mengalami kejadian yang membuat aku begitu sakit. Seorang cowok yang tanpa sengaja masuk dalam kehidupanku kini malah menghancurkan semuanya......

Aku mengenal Dimas dari Santi,teman dekatku. Kebetulan tiap malem Dimas latihan silat di samping ponpes tempat ku mengaji kala malam hari. Awalnya aku biasa aja dengan kehadirannya. Ga ngefek sama sekali. Tapi hari-hari berikutnya Dimas memulai kedekatan kami dengan sekedar menitip salam padaku. Ga ada yang spesial memang. Tapi hari-hari ku kini mulai terasa indah dengan keberadaanya.

Hanya saja kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Disaat aku mulai menyukainya, tak ku sangka Dimas malah nembak Santi. Aku bener-bener ga tau harus berbuat apa. Tentu saja aku tak bisa menyalahkannya karna ini memang hak mereka. Aku mencoba  ikhlas dengan hubungan mereka. Aku berusaha tegar dan mendukung hubungan mereka meski sebenarnya hati ku begitu sakit. Itu semua aku lakukan karna aku masih menghargai Santi sebagai shbat ku. Aku memilih mengalah daripada harus kehilangan sahabat ku hanya karna seorang cowok. Meski hati kecil ku masih tetap mengharapkan Dimas.

Meski pacaran ama Santi,tapi nyatanya tetep aja Dimas ga pernah absent menghubungi ku. Entah sms atau pun telpon. Aku bingung harus bersikap gimana. Karna rasa ikhlas ku lah yang kini menuntunku untuk tetap berhubungan dengan dimas. Jujur saat itu aku benar-benar  telah merelakan Dimas.

Jadi apa salahnya jika aku menerima telpon dan smsnya. Sayangnya pikiranku masih terlalu cetek untuk menyikapi hal itu.  Tentu saja kedekatanku dengan Dimas yang telah ku anggap “teman” itu membuat Santi cemburu. Ia mengira Dimas selingkuh. Dan aku lah selingkuhannya! Kini antara Aku dan Santi serasa ada pemisah yang membuat kami tak lagi bisa seakrab dulu. Ada rasa canggung saat kami ngobrol,seperti orang yang baru kenal.

Hampir  2 tahun lamanya aku tak pernah bertemu lagi dengan Dimas sejak saat itu. Ia tak pernah lagi menghubungiku,atapun Santi. Dimas seperti menghilang di telan bumi. Akupun perlahan bisa menghapusnya dari ingatan ku dan Santi juga telah kembali seperti sedia kala,meski sekarang ia agak tertutup soal cowok.

Kini hari-hari ku semakin berwarna setelah berhasil lolos seleksi dan masuk di SMK favorit di kota ku. Yah,menjadi anak baru tentunya bukan hal yang gampang. Karna aku termasuk anak yang sulit beradaptasi. Aku terlalu cuek dengan apa yang ada di sekitar ku. Namun kini aku telah memiliki beberapa teman akrab.

Tapi hanya satu yang kurasa telah benar-benar akrab. Namanya Putri. Dia temen sebangku ku. Anak nya cukup asyik, meski terkadang ada saat-saat dimana  aku merasa muak padannya. Ada bberapa sifatnya yang tak ku suka. Dia terlalu pede dan kalo ngomong ato ngpapa’’in asal jeplak aja!uukh..yang paling bikin aku sebel saat bersamanya, ngeliat cowok ganteng dikit aja langsung dah tuh kaya ikan kena pancingan. Klepek-klepek ga jelas! Mending kalo di niatinama satu cowok. Nah ini.. tiap ada cowok selaluu aja tingkahnya gtu. Bikin aku tambah mual. Tapi mo diapain juga dia tetep temen terbaik ku(untuk saat ini).

Entah mimpi apa yang ku dapat semalem, pagi itu aku shock setengah mati denger cerita putri soal cowok barunya. Cowok itu... Dimas!! Dimas yang ku kenal bberpa tahun lalu. Yang telah hilang dari kehidupanku setelah menorehkan luka di hati ku. Aku tak habis pikir! Aku memang telah mengenalkan putri pada temen ku yang posisinya juga sbg temen deketnya Dimas.  Tapi aku ga pernah mikir semua ini bakal salah alamat. 

Justru Dimas lah yang kini berpacaran dengan putri. Oh god!! Semoga waktu sedang bercanda..! aku ga mau kejadian itu terulang kembali. Aku takkan sanggup jika harus mengulangnya. Berpura-pura tegar seperti dulu. Aku muak!! Tapi kenyataanya kini,mereka memang pacaran. Tak ada yang bisa ku lakukan selain merelakan mereka. Sama seperti yang ku lakukan dulu. DEMI SAHABAT,!! 
 
#Anne Novia Duana
»»  READMORE...

Saturday, October 20, 2012




Malin Kundang adalah kaba yang berasal dari provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Legenda Malin Kundang berkisah tentang seorang anak yang durhaka pada ibunya dan karena itu dikutuk menjadi batu. Sebentuk batu di pantai Air Manis, Padang, konon merupakan sisa-sisa kapal Malin Kundang.
Cerita rakyat yang mirip juga dapat ditemukan di negara-negara lain di Asia Tenggara. Di Malaysia cerita serupa berkisah tentang Si Tenggang yang berasas dari kisah lebih awal lagi pada 1900 dalam buku Malay Magic yang ditulis oleh Walter William Skeat sebagai satu cerita rakyat berjudul Charitra Megat Sajobang dalam buku Malay Magic (1900) ms 54-55 dicetak oleh The Macmillan Company : New York . Cerita Si Tenggang pernah diterbitkan oleh Balai Pustaka, Jakarta pada 1975 sebagai judul Nakoda Tenggang : sebuah legenda dari Malaysia / oleh A. Damhoeri.

Cerita

Pada suatu waktu, di desa terpencil ada sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatera Barat. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang Ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas. Ayah Malin tidak pernah kembali ke kampung halamannya sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah.

Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.

Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agar dapat menjadi kaya raya setelah kembali ke kampung halaman kelak.

Awalnya Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang beruntung, dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga tidak dibunuh oleh para bajak laut.

Malin Kundang terkatung-katung di tengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya, Malin Kundang beserta istrinya.

Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat bekas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya, Malin Kundang menjadi marah meskipun ia mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya.

Mendapat perlakukan seperti itu dari anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Tidak berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal Malin Kundang. Ditengah kekacauan itu, diwaktu yang sama dan tempat yang lain ibu Malin Kundang sedang berdoa. Karena kemarahannya yang memuncak, ia pun berteriak "Tuhan! Jika benar ia Malin anakku, KUKUTUK DIA JADI BATU!"
Tepat setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Sampai saat ini Batu Malin Kundang masih dapat dilihat di sebuah pantai bernama pantai Air Manis, di selatan kota Padang, Sumatera Barat.

Adaptasi

Karena kepopulerannya kisah Malin Kundang berkali-kali diolah dalam berbagai bentuk, baik cerpen, drama, dan sinetron. Karya-karya adaptasi ini sangat beragam.

Drama

Dramawan dan sastrawan Wisran Hadi menjadikan kisah Malin Kundang sebagai dasar dalam dramanya Malin Kundang (1978) dan Puti Bungsu (1979)

Sinetron

Malin Kundang merupakan sinetron yang diputar di SCTV sejak 11 Januari 2005. Dalam sinetron ini latar cerita Malin Kundang dibawa ke alam modern. Malin Kundang diperankan oleh Fachri Albar. Dalam versi sinetron ini ibu Malin Kundang bernama Zainab dan diperankan Desy Ratnasari.

#IREKA SALSABILA
»»  READMORE...

Saturday, October 13, 2012


Free association

There is an orphanage called "Child Care Foundation." At the foundation there are many children who left their parents. There are left dead and there are deposited at the orphanage.

Introduction figures:
1.     Anne Novia Duana as Narrator
2.    Cut Siti Nisrina as a nursing mother,  Hj.Mekar Sari
3.    Praesidi Caesar as uztad Al-Farabi
4.    M. Zubir as Ahmad, singers & drug dealers
5.    Hendrik as Lee Chong Wei, singers & drug dealers
6.    Ireka Salsabila as Mrs. Nina, who care for nursing
7.    Risna Amalia as Karina, nursing a child who later become drug users
8.    Lia Novita Putri as Regina, nursing a child who later become drug users
9.    Nyak Mirza as Police
10.  Putri Mauliza as Police women
11.  Siti Nisfiyanti as Lili, child nursing
12.  Nur Chadijah as Lena, child nursing
13.  Nana Oktafia as Mela, child nursing
14.  Diva Pratiwi as Tiwi, child nursing

In the afternoon at an orphanage called "Child Care Foundation", a uztad're teaching children the Koran at the orphanage.

Pak uztad                   :           ... "Sadakallahul'azim .."
To end the study today,
let us close by praying together!
Son of nursing           :           (follow uztad)

Study has ended, and when evening had come, uztad also carry a call to prayer. And uztad also invites children to pray in congregation nursing.

Pak uztad                   :           (call to prayer echoes ± 2 minute)

Prayers were ended and the children were soon entered the nursing chamber is eating for dinner. At dinner, Mrs. Mekar Sari was preparing dinner.

Mrs. Mekar                :           Let the kids all get together, we eat dinner.
Tonight we eat potluck, we should be grateful because
we can still eat
Karina                         :           Why do we always eat food like this ?
                                                I don’t want to eat, ukh !
Regina                         :           Yeah, I also don’t want to eat anything like this.
                                                When do we always eat healthy if you like this ?
Tiwi                             :           My friends, we must give thanks to God because we are
still given sustenance and pleasure. Not just food which
is nutritious but expensive food as simple as this also
contains a lot of nutrients
Uztad                         :           Yeah right what is said Tiwi. Imitate nature Tiwi are
always grateful for the blessing given by God
Lili & Mela                  :           Um, yeah. I will to eat this food sir (frowning)


Uztad                         :           Well, let’s eat children. Don’t forget to read the prayer
Child nursing              :           Yes sir !
           
After dinner is finished the children were told, laughing.

Uztad                         :           Already… Already…
The children now time for bed, hurry you guys.
Don’t forget to wash your feet and read a prayer
Karina                         :           Uztad can not see what we pleased ? (looking angry)
Mrs. Nina                   :           Karina, you do so with uztad,
he is your parent in nursing
Regina                         :           The action’s Karina is true Mrs.
Why is it always uztad ban-ban us ?
Tiwi                             :           Instead of banning, but pack the same care uztad us.
                                                So he always advises us !
Mrs. Nina                   :           Yeah really, we care about you.
                                                So hurry up you sleep
Regina                         :           Follow the Tiwi mixed just that ! (said with a whisper)
                                                Okay, let us sleep
           
Finally they hurried to wash the feet and get to sleep.
The next day Mrs. Mekar and Mrs. Nina went away with uztad Faribi headed somewhere, they suddenly met with 2 children on the street musician.

Mrs. Nina                   :           Look ! There are 2 children there.
                                                What if we approached them
Uztad                         :           All right (while heading towards the child)
Pak uztad                   :           Assalamu'alaikum..
Ahmad                                    :           Yes, what is it sir?
Mrs. Mekar                :           What’s your name son ?
Ahmad                                    :           My name is Ahmad !
Lee Chong Wei          :           My name is Lee Chong Wei !
Uztad                         :           You guys why here ? Should you school boy !
Lee Chong                  :           We did not pack the school.
Never mind the school, stay and eat our affliction
Mrs. Nina                   :           Poor you, you should sit on the bench school (sadly)
Uztad                         :           Why don’t we invite them to the orphanage ?
(whispered to Mrs. Nina)
Mrs. Nina                   :           Yeah, let’s invite them to the home (whispering)
Mrs. Nina                   :           Okay, kids.
                                                Why don’t you come with us to the orphanage ?
                                                You can live there
Ahmad & Lee             :           Well, all right mam, but we feel shy
Uztad                         :           It’s okay, come join us

Then they were brought to the orphanage.
Arriving at the orphanage.

Karina                         :           Who is it Mrs ? why they brought here ?
Regina                         :           Who is he Mrs, from where they are ?
Mrs. Mekar                :           Those new kids at this orphanage.
                                                They have no place to live.
You guys don’t mind if they are stay here ?



Karina & Regina         :           We don’t agree whack !
Tiwi                             :           It should not be like that, pity them.
                                                Mrs, I’m happy if they stay here

And the next day, Mrs. Nina introduce to all the nursing child, that their new child's arrival.

Mrs. Nina                   :           Okay everyone, introduce this new child in this
orphanage. Come on introduce yourself !
Lee                              :           I'm Lee Chong Wei
Ahmad                                    :           I’m Ahmad
Lee & Ahmad             :           Greetings !

Then the orphanage children are concerned with their arrival.

Tiwi                             :           You never know them?
Mela                            :           I don’t know
Lena                            :           Especially me
Lili                               :           We must know them first and we must be careful
Of their
All                               :           Yeah .. We agree !

As Karina and Regina go to their room, suddenly Ahmad and Lee approached them.

Lee                              :           Hey you guys, I'm Lee and this introduced Ahmad
Ahmad                                    :           Hey, I’m Ahmad
Karina & Regina         :           Hey ..
Lee                              :           Oh yeah ! This is no candy for you guys,
I'm sure you guys like it
Karina & Regina         :           Yes, Thank you ..

After receiving candy from them, and Regina and Karina get into office, they feel weird about themselves.

Karina                         :           Regina, it looks like I feel weird with me.
Do you feel sleepy ?
Regina                         :           Yeah, you?
Karina                         :           Just like you
Regina                         :           What for sweets again ?
But the candy that Lee given good yeah, I like
Karina                         :           I also

Finally they were addicted to the candy that they do not know actually that drug. The next day Tiwi see Lena and Regina, Karina, Ahmad, and Lee is very familiar.

Lena                            :           Tiwi, why they are already very close friend ?
In fact only met her yesterday
Tiwi                             :           I don’t know, like there was something odd about them






Then Regina and Karina went to Tiwi and Lena.

Regina                         :           Why do you look at us like that?
Lena                            :           No, no nothing
Tiwi                             :           May we join us ?
Regina                         :           Yes, of course !

And some days have passed, the association Regina, Karina, Ahmad, and Lee getting out of control. They often come out without saying goodbye orphanage. And often come home at night.

Regina                         :           Karina, I feel better outside than in a nursing
Karina                         :           Hahaha, yeah I guess so
Lee                              :           Hey ! Here it is stuff that you like
Ahmad                                    :           (giving drugs to Regina and Karina)

And then, Lili, Mela, Tiwi and Lena began to feel suspicious. It was the night they also still have not returned to the orphanage. Then Lily, Mela, Tiwi and Lena find them.

Lili                               :           Where are they Wi ?
Tiwi                             :           I do not know, let's look again
Lena                            :           Come on, let us find them !
Lili                               :           Quick ! We are looking for prey !

And suddenly Lili find four of them. And that can not be mistaken, they're partying. Then Lili and Mela hurriedly summoned uztad and nursing mothers.
Arriving at the orphanage Lili & Mela want to call Mrs. Mekar, but they met with Mrs. Nina.

Lili                               :           (run to the orphanage) Mrs. Mekar ! Emergency Mom !
Come with me Mrs
Mrs. Nina                   :           What’s going on !!?
Lili                               :           Anyway, my mother had to come with us,
will know his own mother later
Mela                            :           Hurry Mom !
Mrs. Nina                   :           Yeah, but wait a minute.
Mother will calling Mrs. Mekar and Uztad

Then Mrs. Nina called Mrs. Mekar and Uztad.

Mrs. Nina                   :           Uztad ! Uztad ! Mrs. Mekar ! Here !
Mrs. Mekar & Uztad            :           What’s up ?
Mrs. Nina                   :           Come with me !
Uztad                         :           Where ?
Mrs. Nina                   :           Come with me just me and these kids !
Mrs. Mekar & Uztad            :           Okay

They also ran for four children. Then they were found by Mrs. Nina.

Mrs. Nina                   :           Uztad, Mrs. Mekar ! Here they are !




            They also run after Lili and Mela. Upon arrival, Mela shows Karina and the other to Uztad and nursing mother.

Mela                            :           Look sir ! What are they doing !
Mrs. Mekar                :           O God, what are you doing ? (surprised) 
Regina                         :           No ! We did not do anything
(hide drug was in his hands)
Karina, Ahmad, Lee  :           (shocked and wanted to run)
All nursing children  :           (encircle) hey you guys where are you going?
Mrs. Nina                   :           What are you doing this late night is already here?
Karina                         :           We're sorry (fear)
Uztad                         :           What’s in your hands Lee?  
Lee                              :           It's nothing pack (fear)

Then Uztad forced to open the hand Lee, Lee fight. then Uztad seized goods is in the hands of Lee with a force.

Uztad                         :           Astaghfirullah.
Where can from these illicit goods !? (angry)
Lee                              :           Sir… Forgive us (fear)

Uztad was slapped Lee. And Mela directly contact the police to arrest their friends were.

Mela                            :           Hello, police ? Soon come !
                                                Here there are social events are free !

 And the police had interrogated immediately come to four of them. Arriving there, they direct the police in interrogation.

Police                          :           Do not move! lift your hands!
(While pointing a gun towards them)
They are four of us :           We are not guilty sir. It's only just a misunderstanding
(Looking terrified)
Police                          :           Silence ! already proven that you are guilty.
Ringkus them !
Policewoman               :           Good Sir !

And Policewoman was then handcuffed their hands, and take them to the police station.

Regina                         :           But .. ! we are not guilty.
We are please don’t bring us to the police station
Police                          :           I told you guys do not talk a lot! (Snaps)
Regina                         :           What about this, we will be in jail
Ahmad, Lee & Karen :           I can not do anything about it. Yes we live alone,
Because we are indeed guilty
Police                          :           Quickly take them !
Policewoman               :           Yes Sir ! Sooner you the way !






The police immediately took them to the police station. Upon arrival at the police station, policemen and policewomen interrogated them.

Police                          :           Fast recognition of their immediate data !
Policewoman               :           Ready commander !

            Then the police asked all the questions according to the evidence and the policewoman who was apprehended in perolehnya data.

Police                          :           Where you can stuff this haram ?
The suspects             :           We get it from the city’s largest airport

            After they were interrogated, the police and put them in jail.
            Day after day, year after year has passed. Time to Regina, Karina, Lee, and Ahmad out of jail, and they returned to the orphanage to meet children and nursing addmin. Regina and Karina went to see Mrs. Mekar and Mrs. Nina to  apologize.

Karina                         :           (sad) Ibuu, forgive us
Regina                         :           Yeah mom. Forgive us, we make mistakes mom
Mrs. Nina                   :           Yeah, son, mother forgive.
Don’t repeat anything like that yes
Regina & Karina         :           Both mom, we promise

Regina and Karina condoned by the nursing mother and they hugged. Then Lee and Ahmad went to meet Uztad Al-Faribi.

Lee                              :           Uztad. Forgive us, we blunder
Uztad                         :           Okay uztad sorry, don’t do anything like that again
Lee & Ahmad             :           Good pack. Thank You. Do you still accept us ?
Uztad                         :           Of course sonny

In the end, Ahmad, Lee, Regina, and Karina received again in nursing. And they're a good boy and a good girl at the orphanage.


#Ireka Salsabila
»»  READMORE...