Sabang, Anugrah Allah paling ujung Nusantara ini masih menyimpan
kekayaan alam laut dan darat yang sangat berpotensi. Bukan Orang Aceh
kalo belum pernah ke Sabang, hhe.. jadi Penelusuran Petualangan dan
Sejarah serta adat Aceh kali ini bertujuan ke Sabang.. go a head…!!!

Sabang
secara administratif, terdiri dari pulau pulau yakni Benggala, Klah,
Rondo, Rubiah, Seulako, dan Weh (pulau yang paling luas). Di Pulau Weh
terdapat sebuah danau air tawar bernama Danau Aneuk Laot. Pulau Weh
merupakan sebuah pulau vulkanik, sebuah pulau atol (pulau karang) yang
proses terjadinya mengalami pengangkatan dari permukaan laut. Proses
terjadinya dalam tiga tahapan, terbukti dari adanya tiga teras yang
terletak pada ketinggian yang berbeda.



Nah,
petualangan sejarah kali ini akan mengajak kita mengetahui masa lalu
Sabang sambil menikmati keindahan pantai, pesona laut Sabang yang gak
kalah dengan Pesona di Manado, Selatan Jawa dan Seaworld-nya Amerika..
Perjalanan
ke Sabang bisa ditempuh dari Banda Aceh, kota kelahiran ane.. Dengan 2
jenis kapal yang siap mengantar para penikmat pantai menuju Pelabuhan
Balohan. Kapal yang satu kapal Ferry, yang menurut jadwal sih berangkat
jam 9.30 pagi dari pelabuhan Ulhelhe Banda Aceh. Biayanya Rp 75.000.
perjalanan menempuh waktu lebih kurang 40 menit, dimana kita melihat
indahnya laut Sabang, syukur-syukur bisa melihat lumba-lumba.


Kapal
kedua, kapal yang rada gede, kita bisa menaikkan kendaraan mobil dan
motor (kalo di Aceh, bilangnya honda, atau kereta untuk semua jenis
sepeda motor di Aceh). Biaya kapal ini rada murah, sekitar Rp 35000,
tapi perjalanan akan menempuh waktu lebih kurang 2 jam kalo udara lagi
bersahabat, bisa jadi juga sampe berjam-jam. Di laut Sabang ini kita
bisa menikmati pertemuan 2 arah mata angin, satu dari Samudra Hindia di
Barat, dan satunya lagi dari Selat Malaka di Timur. Selat Sabang ini
menjadi jalur sibuk di masa penjajahan Portugis, Belanda, Inggris dan
Sepanyol, saat mereka membuka jalan ke arah Asia untuk berdagang,
menyebarkan agama dll..
Sampai di Sabang, pelabuhan Balohan, kita
akan disambut dengan berbagai macam transportrasi umum yang siap
mengantar kita kemana kita mau, bisa ke kota Sabang, Gapang, Iboih
ataupun balik lagi ke Banda Aceh, hha…


Ada
baiknya untuk membawa kendaraan pribadi dari Banda Aceh, demi
keleluasaan dalam berpetualangan di Sabang, karena transportrasi umum di
Sabang masih sangart susah. Jika hari masih pagi, nikmati dulu
pemandangan dalam perjalanan menuju kota Sabang, kita bisa menikmati
danau Aneuk Laot, coba juga mampir ke Pantai Sumur Tiga, tapi kalo
kemari, perjalanan agak mutar dikit. Perjalanan dari Balohan ke Sabang,
kalo rada santai dan menikmati pemandangan, bisa makan waktu 1-2 jam,
tergantung keadaan isi perut, :)


Sebelum
sampai Sabang, ada baiknya merencanakan mau tinggal dimana, kalo mau
surfing, menikmati terumbu karang yang luasnya sampai puluhan ribu meter
persegi, dan berenang, lebih bagus ambil di Iboih, selain pantainya
sangat bagus, juga dekat dengan wisata pulau Rubiah, pulau yang masih
mempunyai terumbu karang masih sangat alami (sayang alis gak punya
kamera anti air, gak bisa difoto terumbu karangnya). Tapi penginapan di
Iboih tidak seenak di Gapang, minimal fasilitas airnya. Agak susah
mendapatkan air bersih di Sabang. Gapang lebih banyak tempat tinggal
semacam cottage, sehingga fasilitas inap lebih enak. Kalo mau lebih enak
sih di Sumur Tiga, ada 2 cottage yang menyediakan fasilitas ala barat.
Tapi kalo mau backpacker-an sih, di pantai juga bisa tidurnya mah…



Biaya
sewa alat untuk surfing, diving dan ski air beragam, tergantung air
muka sang penyewa, kalo rada2 takut, yang punya alat mungkin berani
ngasih harga 60 ribuan (udah termasuk pelampung, kaki katak dan kaca
mata), tapi kalo rada-rada sok keras gitu deh, bisa dapet 45 ribuan.
Tapi saya sarankan untuk tidak berkeras-keras dengan orang Sabang,
mereka punya latar belakang orang laut, jadi mungkin lebih cepat panas,
soalnya sering kena solar (upsssss….) tapi disarankan banget untuk tidak
melewati kegiatan surfing ini…kecuali cuaca tidak memungkinkan..bisa
juga nyewa perahu, boat dan apapun itu untuk ke Rubiah, biaya sewa kalo
dari Iboih bisa 100.000 untuk paling banter 12 orang. Tapi kalo dari
Gapang bisa 300.000, karena lebih jauh. Bisa nego kok… Mending pilih
kapal yang ada kotak yang alasnya berkaca, jadi bisa melilhat terumbu
karang dan ikan hias dari dalam kapal, indah banget dah…
Pulau
Weh, pulau serba ada. Mau gunung api? Ada yang masih ngebul, bisa
ditemui di daerah Jaboi. Mau Danau, ada juga, namanya Danau Aneuk Laot,
yang merupakan salah satu sumber utama air tawar kota Sabang. Mau
keindahan pantai ? juga banyak.


Sabang
merupakan daerah endemik demam berdarah dan malaria, jadi disarankan
juga untuk membeli autan dan semacamnya, kalo anda mau bakar-bakar ikan
di pantai, atau mau tidur di pelabuhan, atau juga jika ingin
mojok..(Dilarang Berkhalwat, ntar kena Cambuk…!!!). di Sabang Cuma ada
2-3 ATM, ada BPD Aceh, dan BRI, jadi kalo mau ngambil duit, ya mesti ke
kota Sabang, jaraknya kira2 100 meter dari pasar Sabang. Disarankan juga
untuk beli kue Sabang (mirip2 Lumpia nya Jogja), ada rasa kopi, kacang
ijo, durian, nano nano dah… Orang Sabang menggunakan mobil chevrolet
sebagai angkutan dalam kotanya, dengan naruh semacam pelindung hujan di
bak nya, mereka siap mengantar masyarakat ke daerah2 Sabang. Yang paling
keren, orang Sabang jadiin mobil BMW, Mercy, Camry dan sejenisnya untuk
jemuran kain, jemur kerupuk. Kalo mau berjalan-jalan ke kampung, kita
akan menjumpai mobil-mobil mewah yang terparkir di depan rumah-rumah
kecil yang mungkin harga pasarannya, lebih mahal mobilnya ketimbang
rumahnya, hhe…



Tahun
2000an, sejak Sabang mulai dibuka menjadi pelabuhan bebas, banyak
mobil-mobil dari Singapura datang ke Sabang, awalnya diperuntukkan untuk
orang Sabang (dengan tanda di plat nomernya BL xxx SB), trus akhirnya
di kasi Quota ribuan mobil, dapat di bawa ke daratan Aceh, dengan tanda
di plat nomernya BL xxx NA, nah sejak udah direformasi peraturannya,
sekarang mobil-mobil bawaan Sabang, itu bertanda BL xxx AQ.
Rata-rata
masyarakat Aceh yang punya mobil mewah, agak sombong, gak tau hidupin
lampu samping, buang sampah dari jendela Mercynya, terobos lampu merah,
gak segan-segan nglakson kendaraan yang mengganggu jalannya, nah liat
aja platnya, apakah BL xxx AQ, kalo iya biarin aja, Orang Kaya Baru itu,
belum pernah punya mobil… :)


Kembali
ke Sabang, Sabang juga terkenal dengan durian kecilnya, berhubung saya
tidak suka durian, jadi gak usah kita bahas mendetail..yang bagus untuk
dinikmati, ikan-ikannya, mancing aja, anda akan mudah mendapatkan
ikan-ikan di Sabang, mana tau dapat putri duyung.. (terutama di Pantai
Ujung Kareung)


Sediakan
waktu sehari untuk berkeliling pulau Weh, main-main ke Nol Kilometer di
ujung pulau, Lhoong Angen di Barat Weh, hutan wisata Iboih, Gua Sarang,
air terjun, Sumur Tiga, Pantai Kasih, Pantai tapak gajah, Anoi
Hitam(bekas peninggalan benda-benda jaman perang dunia II, Ujung Seuke
dan sumber air panas Paya Keuneukai, sangat banyak pesona pantai di
Sabang, selamat menikmati..


Konon
kisahnya dahulu kala, Pulau Weh itu sebenarnya bersatu dengan Pulau
Sumatera. Namun dalam sebuah gempa bumi dahsyat, keduanya terpisah
seperti kondisi sekarang yang berjarak 18 mil! Akibat gempa itu lagi,
Pulau Weh menjadi tandus dan gersang.
Lalu ada seorang putri jelita
di Pulau Weh yang meminta pada Tuhan agar Pulau Weh tidak gersang. Ia
lalu membuang seluruh perhiasannya ke laut sebagai "kaulnya". Kemudian
hujan pun turun, disusul gempa bumi. Akhirnya terbentuklah sebuah danau
yang kemudian diberi nama Aneuk Laot di tengah-tengah pulau itu. Putri
itu sendiri kemudian terjun ke laut.
Tak usah dipermasalahkan
benar-tidaknya, sebab namanya saja legenda. Tetapi yang pasti Danau
Aneuk Laot seluas 30 hektar itu masih ada hingga sekarang. Dengan
kapasitas air 7 juta ton, danau itu menjadi sumber air minum utama
penduduk Sabang. Sementara sumber cadangan air datang dari empat danau
lagi, Danau Paya Seunara, Paya Karieng, Paya Peuteupen dan Paya Seumesi.
Kota
Sabang sebelum Perang Dunia II adalah kota pelabuhan terpenting
dibandingkan Temasek (sekarang Singapura). Sabang telah dikenal luas
sebagai pelabuhan alam bernama Kolen Station oleh pemerintah kolonial
Belanda sejak tahun 1881. Pada tahun 1887, Firma Delange dibantu Sabang
Haven memperoleh kewenangan menambah, membangun fasilitas dan sarana
penunjang pelabuhan. Era pelabuhan bebas di Sabang dimulai pada tahun
1895, dikenal dengan istilah vrij haven dan dikelola Maatschaappij
Zeehaven en Kolen Station yang selanjutnya dikenal dengan nama Sabang
Maatschaappij. Perang Dunia II ikut mempengaruhi kondisi Sabang dimana
pada tahun 1942 Sabang diduduki pasukan Jepang, kemudian dibombardir
pesawat Sekutu dan mengalami kerusakan fisik hingga kemudian terpaksa
ditutup.



Pada
masa awal kemerdekaan Indonesia, Sabang menjadi pusat Pertahanan
Angkatan Laut Republik Indonesia Serikat (RIS). Semua aset Pelabuhan
Sabang Maatschaappij dibeli Pemerintah Indonesia. Kemudian pada tahun
1965 dibentuk pemerintahan Kotapraja Sabang dan dirintisnya gagasan awal
untuk membuka kembali sebagai Pelabuhan Bebas dan Kawasan Perdagangan
Bebas.

Orang
Sabang, biasa tidak melaut di hari jumat, baik nelayan, maupun yang
empunya kapal untuk wisatawan, biasanya ini perintah panglima. Kata
“panglima” yang dimaksud adalah ketua adat yang harus mengelola wilayah
laut. Kata itu sudah sejak lama digunakan pada masa Kerajaan Aceh
pimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Waktu itu panglima laut
adalah penguasa laut, tetapi sekarang bergeser menjadi pengelola wilayah
laut. Berbagai informasi soal hukum adat laut, fenomena alam, kearifan
lokal yang telah dikumpulkan dapat dibaca dalam buku “Hukum Adat Laut
Sabang, Kearifan-kearifan yang Terlupakan”, pengarangnya lupa, tapi kalo
mau baca, gak ada di Gramedia, adanya di Perpustakaan Ali hasjimi di
Keutapang, atau di PDIA di Blang Padang, dan berbagai perpustakaan
daerah di Banda Aceh. Kalo mau pinjam sih, fotocopynya ada di ruang baca
di rumah saya..haha…
Setelah mengupas keindahan pantai, kekayaan
dalam laut, hutan dan alam Sabang, juga udah mengetahui sejarah Sabang
dan sebagian adat Sabang, sekarang kita membahas informasi-informasi
yang ada di Sabang, sesama petualang harus berbagi informasi kepada yang
lainnya..

Untuk
tempat menginap, ada penginapan sederhana (tarif di bawah Rp
200.000/malam) seperti losmen2, di Iboih terdapat sejumlah penginapan
berupa bungalow sederhana beratap ijuk dengan tarif sekitar Rp.
80,000an. Penginapan di Gapang juga merupakan bungalow yang banyak
terdapat di sepanjang pantai dengan tarif sekitar Rp 100,000. Hotel
dengan kondisi yang lebih baik adalah Gapang Beach Hotel dengan tarif
mulai dari Rp. 200,000. Kalo mau nginap di Gapang, bisa hubungi bu Minah
di 081360272270, kalo mau di Pantai Sumur tiga bisa ke 081360255001
(Freddy Guest House), ada juga Casanemo di 08136299942. Tapi kalo mau
tips dan trik serta dapat biaya murah semua peralatan diving dan
surfing, bisa ke Pak Mus, di 08126922711. Kalo yang ini saya gak jamin
bisa, soalnya hanya orang-orang tertentu dan kenal aja yang bisa dapat,
hahahahahaha (tertawa puas…). Tempat makan, banyaknya di Kota Sabang,
kalo di kota lain ada juga sih, tapi ya rada-rada gimana gitu..
Setelah
puas di Sabang, saatnya pulang, ingat istri dan anak di rumah, haha..
kapal dari Sabang ke banda aceh ada yang jam 4 sore dan 8 pagi (kapal
cepat), ada yang jam 2 siang, kapal lambat. Kalo bawa mobil, disarankan
untuk mengantri mobil lebih awal di pelabuhan, mengingat antrian yang
sangat panjang, demikian juga di Banda Aceh. Sampai banda Aceh, bersiap
pulang, dan istirahat, besoknya siap-siap aja pegal seluruh badan, namun
udah punya pengalaman menarik, mengunjungi kilometer nol nusantara
dengan berjuta keindahan sang maha pencipta. Sabang, dari Nol Kilometer,
hingga Jutaan Keindahan.
#IREKA SALSABILA