Showing posts with label About Indonesia. Show all posts
Showing posts with label About Indonesia. Show all posts

Monday, October 22, 2012


Gambar mengandung sejuta cerita dibanding sebuah kisah. Dan, lewat foto pula catatan sejarah menjadi bukti lengkap suatu peristiwa. Termasuk tentunya kisah di awal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Selain Mendur bersaudara, sesungguhnya ada pula juru rekam lain yang menyimpan foto-foto setelah merdeka tanpa publikasi luas. Seperti misalnya kumpulan gambar berikut ini. 
Pelantikan Pucuk Pimpinan T.N.I. Jenderal Soedirman 
oleh Presiden Soekarno Di Yogyakarta tgl. 15 Februari 1947
Jenderal Soedirman sedang ber pidato dalam satu rapat 
yang juga dihadiri oleh Bung Karno
Jenderal Soedirman dan Menteri Luar Negeri Ali Sastroamidjojo 
sedang menerima laporan dari seorang bawahan
Upacara peringatan Hari Angkatan Perang di Istana Merdeka 
pada tgl. 5 Oktober 1948
Bung Karno dan Bung Hatta memperhatikan sebuah 
mesin yang sedang dijalankan oleh seorang operator.
Bung Karno menerima seorang perwakilan dari PBB.
Wakil Presiden Mohamad Hatta bersama Sri Sultan Hamengku Buwono ke IX
Bung Karno diatas kuda dalam sebuah upacara dengan 
Sri Sultan Hamengku Buwono ke IX.
Panglima Besar Jenderal Soedirman menyaksikan latihan perang 
Laskar Cadangan di sekitar candi Borobudur pada bulan Maret 1947
Jenderal Soedirman menerima laporan dari 
salah seorang anak buahnya.
Tentara Nasional Indonesia ex Heiho berdefile didalam kota.
Perang Gerilya melawan penjajah Belanda sedang berlangsung.
Tentara Indonesia berdefile didalam kota.
Gerilyawan Indonesia yang terus bergerak dan menggunakan kereta api.
Gerilyawan Indonesia yang bertempur 
dan bertahan di sepanjang rel kereta.
Tentara Gerilyawan Indonesia yang bertempur di hutan.
Tentara Gerilyawan Indonesia yang bertempur di hutan.
Wakil Presiden Bung Hatta yang 
meninjau Gerilyawan di hutan.
Wakil Presiden Bung Hatta meninjau asrama 
para pengungsi dari Jawa Barat tgl. 14 Juni 1948.


Post by : Iswahyudi


»»  READMORE...

Tuesday, October 16, 2012

Cerita rakyat

Cerita rakyat dari Nanggroe Aceh Darussalam – adalah cerita yang diturunkan secara turun temurun oleh para tetua ke anak cucunya. Cerita rakyat Nanggroe Aceh Darussalam yang cukup terkenal adalah Raja Parakeet. Cerita raja parakeet adalah salah satu dari sekian banyak cerita rakyat di seluruh nusantara. Ada banyak cerita rakyat di Indonesia dan merupakan salah satu budaya bangsa yang dapat dijadikan pelajaran dalam kehidupan. Berikut ini adalah cerita rakyat dengan judul Raja Burung Parakeet.

Alkisah di sebuah hutan hiduplah sekelompol burung parakeet. Raja burung parakeet memiliki bulu dan paruh yang cantik, gagah dan indah. Oleh sebab itulah dia diangkat menjadi raja dikalangan burung parakeet. 

Pada suatu hari datang seorang pemburu yang ingin menangkap burung-burung parakeet. Mengetahui hal itu semua burung parakeet menjadi risau sebab pemburu itu merupakan orang yang handal dalam menjebak burung. Sudah banyak jenis burung lain yang masuk dalam perangkapnya dan tidak akan selamat. Burung-burung yang sudah ditangkap itu biasanya di jual atau dimakan oleh si pemburu.

Raja burung parakeet menjadi risau dan coba untuk mencari akal bagaimana caranya supaya tidak masuk perangkap pemburut tersebut. Namun, raja burung parakeet tidak menemukan jalan sehingga banyaklah rakyat burung parakeet yang masuk perangkap sang pemburu. Raja burung parakeet menjadi sedih lalu timbul ide untuk mengelabui si pemburu. Dia memerintahkan pada rakyat burung parakeet yang sudah masuk perangkap si pemburu agar berpura-pura mati. Rakyat burung parakeet setuju, ketika keesokan harinya pemburu datang kembali ke hutan dan bermaksud untuk mengambil burung-burung yang sudah terjebak. 

Melihat semua burung-burung itu mati si pemburu menjadi kesal dan kemudian mengeluarkan semua burung dari perangkapnya. Setelah semua burung keluar dari sangkar dengan serentak burung-burung itu terbang ke udara. Kumpulan burung parakeet itu dapat menipu si pemburu berkat ide dari raja mereka.

Namun sayangnya ada satu burung yang tidak berhasil lolos dari si pemburu, dia adalah raja burung parakeet sendiri. Si pemburu merasa senang karena walaupun semua burung terlepas tapi dia masih memiliki burung parakeet yang sangat cantik. Raja burung parakeet tidak bisa berbuat apa-apa. Dia di bawa pulang oleh si pemburu. Sesampainya di rumah pemburu tersebut bermaksud ingin memakan raja burung parakeet. 

Mengetahui hal ini raja burung parakeet tidak kehilangan akal dia mengajukan syarat kepada si pemburu. Syarat itu adalah bahwa raja burung parakeet akan bernyanyi untuk si pemburu setiap hari sampai rasa penat si pemburu hilang. Mendengar perkataan raja burung parakeet si pemburu setuju dan tidak jadi memakannya. Maka sejak saat itu raja burung parakeet akan bernyanyi setiap hari sampai rasa sedih dan penat si pemburu hilang.

 Kemerduan suara raja burung parakeet terdengar di seluruh kota dan menyebabkan baginda raja tertarik akan kemerduan suara raja burung parakeet. Kemudian raja memerintahkan bawahannya untuk membawa si pemburu beserta raja burung parakeet. Raja memerintahkan agar burung parakeet bernyanyi untuknya. 

Mendengar suara raja burung parakeet menyebabkan raja menjadi tertarik kemudian dia berkata kepada si pemburu bahwa dia akan membayar berapapun yang diminta oleh si pemburu asalnya burung parakeet itu menjadi miliknya. Si pemburu setuju dan menyerahkan raja burung parakeet kepada baginda raja.

Baginda raja sangat senang menerima raja burung parakeet, dia membangun sebuah sangkar dari emas untuk tempat tinggal raja burung parakeet. Akan tetapi raja burung parakeet tidak merasa bahagia. Dia teringat kepada rakyatnya burung parakeet yang saat ini sudah bebas di hutan. Lalu raja burung parakeet mencari akal. Suatu hari raja burung parakeet berpura-pura mati, ketika mengetahui hal ini sang raja menjadi sangat sedih. Baginda raja lalu membuat upacara kematian yang sangat meriah bagi raja burung parakeet. Namun ketika hendak di kubur, raja burung parakeet tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia lalu terbang ke udara meninggalkan sang raja dan kembali ke hutan menemui rakyatnya.

Begitulah cerita rakyat dari negeri Nanggroe Aceh Darussalam yang berjudul Raja Burung Parakeet.

#Ireka Salsabila
»»  READMORE...
asal usul tari guel 

Tersebutlah dua bersaudara putra Sultan Johor, Malaysia. Mereka adalah Muria dan Sengede.
Suatu hari, kakak beradik itu meng­gem­­bala itik di tepi laut sambil bermain la­yang-layang. Tiba-tiba datang badai dah­­­­­­­­syat se­­­­hin­gga benang layang-layang me­reka pun putus. Sekuat tenaga mereka mengejar layang-layang ter­sebut. Mere­ka lupa bahwa pada saat itu me­reka sedang menggembala itik, hingga itiknya pun pergi entah ke mana.

Setelah gagal menemukan layang-layang mereka, barulah mereka teringat akan itik-itik mereka. Tetapi malang, itik-itik itu tak lagi nampak. Mereka pun pulang dengan ketakutan akan mendapat marah dari orangtua mereka.


Benar juga apa yang mereka pikir­kan. Setiba di rumah, mereka dimarahi ayah mereka. Mereka juga disuruh mencari itik-itik itu, dan tak diizinkan kembali sebelum itik-itik yang hilang itu ditemukan kembali.

Berhari-hari bahkan berbulan-bulan mereka berjalan mencari itik mereka, tapi tak membawa hasil hingga akhirnya mere­ka tiba di Kampung Serule. Dengan tubuh yang lunglai mereka menuju ke sebuah meunasah/langgar dan tertidur lelap. Pagi hari­­nya mereka ditemukan oleh orang kam­pung dan dibawa menghadap ke istana Raja Serule. Di luar dugaan, mereka malah di­angkat anak oleh baginda raja.

Beberapa waktu berlalu, rakyat Seru­le hidup makmur, aman, dan sentosa. Hal ini di­karenakan oleh kesaktian kedua anak tersebut. Kemakmuran rakyat Serule itu mem­­buat Raja Linge iri dan gusar, se­hing­ga meng­­ancam akan membunuh kedua anak ter­sebut. Malang bagi Muria, ia ber­hasil di­­bunuh dan di­makamkan di tepi Sungai Samarkilang, Aceh Tenggara.

Pada suatu saat, raja-raja kecil ber­kumpul di istana Sultan Aceh di Kutaraja. Raja-raja kecil itu mempersembahkan cap usur, semacam upeti kepada Sultan Aceh. Saat itu, Cik Serule datang bersama Sangede. Saat itu, Raja Linge juga hadir. Saat Raja Serule masuk ke istana, Sangede menung­gu di halaman istana.

Sambil menunggu ayah angkatnya, Sa­­ngede menggambar seekor gajah yang ber­warna putih. Rupanya lukisan Sangede ini menarik perhatian Putri Sultan yang ke­mu­di­an meminta Sultan mencarikan se­ekor ga­jah putih seperti yang digambar oleh Sangede.

Sangede kemudian menceritakan bah­wa gajah putih itu berada di daerah Gayo, pa­dahal dia sebenarnya belum per­nah me­­­­lihatnya. Maka, saat itu juga Sultan me­me­rintahkan Raja Serule dan Raja Linge untuk menangkap gajah putih tersebut gu­na dipersembahkan kepada Sultan. Raja Se­ru­le dan Raja Linge benar-benar kebi­ngu­ng­­an, bagaimana mungkin mencari se­suatu yang belum pernah dilihatnya.

Sangede menyesal karena bercerita bahwa gajah putih itu ada di Gayo hingga ayah angkatnya mendapat tugas mencari­nya. Dalam kebingungan itu, suatu malam Sangede bermimpi bertemu dengan Muria yang memberitahu bahwa gajah putih itu berada di Samarkilang, dan sebenarnya ga­jah putih itu adalah dirinya yang menjel­ma saat dibunuh oleh Raja Linge.

Pagi harinya, Sangede dan Raja Seru­le yang bergelar Muyang Kaya pergi ke Sa­mar­kilang seperti perintah dalam mimpi Sangede. Benar juga, setelah beberapa sa­­at mencari, mereka berdua menemukan ga­­jah putih itu sedang berkubang di ping­gir­­an sungai.

Sangede dan Raja Serule Muyang Kaya kemudian dengan hati-hati mengena­kan tali di tubuh gajah yang nampak pe­nurut itu. Tetapi saat akan dihela, gajah pu­tih itu lari sekuat tenaga. Raja Serule dan Sa­­ngede tak mampu menahannya. Mereka ha­nya bisa mengejarnya hingga suatu saat ga­j­ah itu berhenti di dekat kuburan Muria di Samarkilang.

Anehnya, gajah putih itu berhenti se­perti sebongkah batu. Tak bergerak sedikit pun meski Sangede dan Raja Serule men­coba menghelanya. Berbagai cara dicoba oleh Sangede agar gajah putih itu mau beranjak dan menuruti perintahnya untuk diajak pergi ke istana Kutaraja. Tetapi, se­mua­nya sia-sia.

Sangede kehabisan akal. Akhirnya, dia bernyanyi-nyanyi untuk menarik perhatian gajah putih. Sambil bernyanyi, Sangede meliuk-liukkan tubuhnya. Raja Serule ikut-ikutan menari bersama Sangede di depan gajah putih agar mau bangkit dan menuruti perintahnya. Di luar dugaan, gajah putih itu ter­tarik juga oleh gerakan-gerakan Sa­nge­­de, dan kemudian bangkit. Sangede te­rus menari sambil berjalan agar gajah itu meng­ikuti langkahnya. Akhirnya, gajah itu pun meng­ikuti Sangede yang terus menari hingga ke istana. Tarian itu disebutnya tari­an Guel hingga sekarang.

Sangede menyadari bahwa sesuatu ajakan kepada seseorang atau kepada binatang tidaklah harus dengan cara yang kasar. Dengan sebuah tarian pun akhirnya gajah putih itu menuruti ajakannya.

 #Ireka Salsabila
»»  READMORE...

 
SMA negeri 1 Lhokseumawe merupakan salah satu sekolah menengah atas tertua di Provinsi Aceh yang didirikan pada tahun 1957. SMA Negeri 1 Lhokseumawe resmi berstatus Sekolah Negeri dengan SK penegerian no: 27/SK/B.III.Tgl. 1 Juni 1959 Terhitung Mulai Tanggal 1 Agustus 1959. Saat itu SMA Negeri 1 Lhokseumawe dipimpin oleh Bapak Budiman Sulaiman.
Berikut ini adalah Kepala – kepala sekolah yang pernah memimpin SMAN 1 Lhokseumawe sejak didirikan hingga sekarang:

  1. Budiman Sulaiman ( 1 September 1958 s.d 31 Maret 1968)
  2. Abdurrahman Ismail ( 1 April 1968 s.d 31 Maret 1976)
  3. Drs. Ishak Djohan (1 April 1967 s.d 30 September 1980)
  4. M.Sahid ( 1 Oktober 1980 s.d 29 Oktober 1983)
  5. M.Hasan Yacob,BA (30 Oktober 1983 s.d 29 Desember 1987)
  6. Drs.Abdullah Amien ( 30 Desember 1987 s.d 28 Januari 1990)
  7. Drs.Ibrahim Hasan ( 29 Januari 1990 s.d 5 Februari 1997)
  8. Drs.Abdullah Wahab Ismail ( 6 Februari 1997 s.d 21 Januari 1999
  9. Drs.A.Aziz ( 22 Januari 1999 s.d 27 Agustus 2002)
  10. Drs. Maimun Mahyuddin ( 3 Oktober 2002 s.d 17 Januari 2004)
  11. Drs. Azhari (18 Januari 2004 s.d     Agustus 2004)
  12. Drs. Maimun Mahyuddin (   Agustus 2004 s.d 4 Mei 2008)
  13. Drs.Z.Abidin Ali,M.Pd ( 8 Mei 2008 s.d sekarang)

Saat Tsunami Aceh tanggal 26 Desember 2004 SMA Negeri 1 Lhokseumawe tidak mengalami kerusakan yang berarti, secara umum dampak kerusakan fisik akibat tsunami hampir tidak ada di Kota Lhokseumawe. Namun pasca tsunami tersebut banyak bantuan yang datang ke SMA Negeri 1 Lhokseumawe sehingga hampir semua bangunan yang lama diganti dengan bangunan baru, demikian juga halnya dengan sarana dan prasarana.

Pada tahun 2007 SMA Negeri 1 Lhokseumawe menyandang  status sebagai Rintisan Sekolah Kategori Mandiri ( Rintisan Sekolah Standar Nasional) bersama sekolah lain diseluruh Indonesia yang Jumlahnya 441 sekolah.
Saat ini SMAN 1 Lhokseumawe berstatus sebagai Rintisan Sekolah bertaraf Internasional berdasarkan Keputusan SK Dirjenmandikdasmen Nomor : 4100.a/C.C4/KP/2010, tanggal 24 September 2010. Keputusan ini menjadi sebuah tanggungjawab yang harus dipikul dan dilaksakan agar dalam beberapa tahun kedepan SMAN 1 Lhokseumawe dapat menjadi SMA bertaraf Internasional sekaligus kebanggaan masyarakat kota Lhokseumawe Khususnya dan Aceh pada umumnya.
Saat ini ada 8 sekolah R-SMA-BI di Provinsi Aceh yaitu: SMAN Modal Bangsa Aceh Besar, SMAN Lab School Unsyiah, SMAN 2 Banda Aceh, SMAN Wira Bangsa Meulaboh, SMAN 4 Takengon, SMA Swasta Sukma Bangsa Bireuen, SMAN 1 Lhokseumawe dan SMAN 1 Langsa. Dalam perjalanan menuju R-SMA-BI, SMAN Negeri 1 Lhokseumawe telah merintisnya sejak tahun 2007 yang saat itu dipimpin oleh Drs. Maimun Mahyuddin, selanjutnya pada tahun 2008 Bapak Drs.Z.Abidin Ali, M.Pd sebagai Kepala Sekolah baru yang menggantikan Bapak Drs. Maimun Mahyuddin melanjutkan peruangan beliau sehingga pada bulan  September 2010 SMAN 1 Lhokseumawe resmi berstatus Rintisan Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Lhokseumawe Bertaraf Internasional .
Pada bulan Oktober 2010 dilakukan MoU Rintisan Sekolah Menegah Atas Bertaraf Internasional dilaksanakan di Bogor. SMA Negeri 1 Lhokseumawe saat itu diwakili oleh Jhon Abdi,S.Pd (Wakasek Bidang Kurikulum) dan Iswandi,S.Pdi  berhubung Bapak Drs. Z.Abidin Ali,M.Pd selaku Kepala SMA Negeri 1 Lhokseumawe tidak dapat hadir karena sedang menunaikan Ibadah Haji.

post by : Iswahyudi

»»  READMORE...

Saturday, October 13, 2012

Sabang, Anugrah Allah paling ujung Nusantara ini masih menyimpan kekayaan alam laut dan darat yang sangat berpotensi. Bukan Orang Aceh kalo belum pernah ke Sabang, hhe.. jadi Penelusuran Petualangan dan Sejarah serta adat Aceh kali ini bertujuan ke Sabang.. go a head…!!!




Sabang secara administratif, terdiri dari pulau pulau yakni Benggala, Klah, Rondo, Rubiah, Seulako, dan Weh (pulau yang paling luas). Di Pulau Weh terdapat sebuah danau air tawar bernama Danau Aneuk Laot. Pulau Weh merupakan sebuah pulau vulkanik, sebuah pulau atol (pulau karang) yang proses terjadinya mengalami pengangkatan dari permukaan laut. Proses terjadinya dalam tiga tahapan, terbukti dari adanya tiga teras yang terletak pada ketinggian yang berbeda.







Nah, petualangan sejarah kali ini akan mengajak kita mengetahui masa lalu Sabang sambil menikmati keindahan pantai, pesona laut Sabang yang gak kalah dengan Pesona di Manado, Selatan Jawa dan Seaworld-nya Amerika..

Perjalanan ke Sabang bisa ditempuh dari Banda Aceh, kota kelahiran ane.. Dengan 2 jenis kapal yang siap mengantar para penikmat pantai menuju Pelabuhan Balohan. Kapal yang satu kapal Ferry, yang menurut jadwal sih berangkat jam 9.30 pagi dari pelabuhan Ulhelhe Banda Aceh. Biayanya Rp 75.000. perjalanan menempuh waktu lebih kurang 40 menit, dimana kita melihat indahnya laut Sabang, syukur-syukur bisa melihat lumba-lumba.





Kapal kedua, kapal yang rada gede, kita bisa menaikkan kendaraan mobil dan motor (kalo di Aceh, bilangnya honda, atau kereta untuk semua jenis sepeda motor di Aceh). Biaya kapal ini rada murah, sekitar Rp 35000, tapi perjalanan akan menempuh waktu lebih kurang 2 jam kalo udara lagi bersahabat, bisa jadi juga sampe berjam-jam. Di laut Sabang ini kita bisa menikmati pertemuan 2 arah mata angin, satu dari Samudra Hindia di Barat, dan satunya lagi dari Selat Malaka di Timur. Selat Sabang ini menjadi jalur sibuk di masa penjajahan Portugis, Belanda, Inggris dan Sepanyol, saat mereka membuka jalan ke arah Asia untuk berdagang, menyebarkan agama dll..

Sampai di Sabang, pelabuhan Balohan, kita akan disambut dengan berbagai macam transportrasi umum yang siap mengantar kita kemana kita mau, bisa ke kota Sabang, Gapang, Iboih ataupun balik lagi ke Banda Aceh, hha…





Ada baiknya untuk membawa kendaraan pribadi dari Banda Aceh, demi keleluasaan dalam berpetualangan di Sabang, karena transportrasi umum di Sabang masih sangart susah. Jika hari masih pagi, nikmati dulu pemandangan dalam perjalanan menuju kota Sabang, kita bisa menikmati danau Aneuk Laot, coba juga mampir ke Pantai Sumur Tiga, tapi kalo kemari, perjalanan agak mutar dikit. Perjalanan dari Balohan ke Sabang, kalo rada santai dan menikmati pemandangan, bisa makan waktu 1-2 jam, tergantung keadaan isi perut, :)





Sebelum sampai Sabang, ada baiknya merencanakan mau tinggal dimana, kalo mau surfing, menikmati terumbu karang yang luasnya sampai puluhan ribu meter persegi, dan berenang, lebih bagus ambil di Iboih, selain pantainya sangat bagus, juga dekat dengan wisata pulau Rubiah, pulau yang masih mempunyai terumbu karang masih sangat alami (sayang alis gak punya kamera anti air, gak bisa difoto terumbu karangnya). Tapi penginapan di Iboih tidak seenak di Gapang, minimal fasilitas airnya. Agak susah mendapatkan air bersih di Sabang. Gapang lebih banyak tempat tinggal semacam cottage, sehingga fasilitas inap lebih enak. Kalo mau lebih enak sih di Sumur Tiga, ada 2 cottage yang menyediakan fasilitas ala barat. Tapi kalo mau backpacker-an sih, di pantai juga bisa tidurnya mah…







Biaya sewa alat untuk surfing, diving dan ski air beragam, tergantung air muka sang penyewa, kalo rada2 takut, yang punya alat mungkin berani ngasih harga 60 ribuan (udah termasuk pelampung, kaki katak dan kaca mata), tapi kalo rada-rada sok keras gitu deh, bisa dapet 45 ribuan. Tapi saya sarankan untuk tidak berkeras-keras dengan orang Sabang, mereka punya latar belakang orang laut, jadi mungkin lebih cepat panas, soalnya sering kena solar (upsssss….) tapi disarankan banget untuk tidak melewati kegiatan surfing ini…kecuali cuaca tidak memungkinkan..bisa juga nyewa perahu, boat dan apapun itu untuk ke Rubiah, biaya sewa kalo dari Iboih bisa 100.000 untuk paling banter 12 orang. Tapi kalo dari Gapang bisa 300.000, karena lebih jauh. Bisa nego kok… Mending pilih kapal yang ada kotak yang alasnya berkaca, jadi bisa melilhat terumbu karang dan ikan hias dari dalam kapal, indah banget dah…

Pulau Weh, pulau serba ada. Mau gunung api? Ada yang masih ngebul, bisa ditemui di daerah Jaboi. Mau Danau, ada juga, namanya Danau Aneuk Laot, yang merupakan salah satu sumber utama air tawar kota Sabang. Mau keindahan pantai ? juga banyak.





Sabang merupakan daerah endemik demam berdarah dan malaria, jadi disarankan juga untuk membeli autan dan semacamnya, kalo anda mau bakar-bakar ikan di pantai, atau mau tidur di pelabuhan, atau juga jika ingin mojok..(Dilarang Berkhalwat, ntar kena Cambuk…!!!). di Sabang Cuma ada 2-3 ATM, ada BPD Aceh, dan BRI, jadi kalo mau ngambil duit, ya mesti ke kota Sabang, jaraknya kira2 100 meter dari pasar Sabang. Disarankan juga untuk beli kue Sabang (mirip2 Lumpia nya Jogja), ada rasa kopi, kacang ijo, durian, nano nano dah… Orang Sabang menggunakan mobil chevrolet sebagai angkutan dalam kotanya, dengan naruh semacam pelindung hujan di bak nya, mereka siap mengantar masyarakat ke daerah2 Sabang. Yang paling keren, orang Sabang jadiin mobil BMW, Mercy, Camry dan sejenisnya untuk jemuran kain, jemur kerupuk. Kalo mau berjalan-jalan ke kampung, kita akan menjumpai mobil-mobil mewah yang terparkir di depan rumah-rumah kecil yang mungkin harga pasarannya, lebih mahal mobilnya ketimbang rumahnya, hhe…







Tahun 2000an, sejak Sabang mulai dibuka menjadi pelabuhan bebas, banyak mobil-mobil dari Singapura datang ke Sabang, awalnya diperuntukkan untuk orang Sabang (dengan tanda di plat nomernya BL xxx SB), trus akhirnya di kasi Quota ribuan mobil, dapat di bawa ke daratan Aceh, dengan tanda di plat nomernya BL xxx NA, nah sejak udah direformasi peraturannya, sekarang mobil-mobil bawaan Sabang, itu bertanda BL xxx AQ.

Rata-rata masyarakat Aceh yang punya mobil mewah, agak sombong, gak tau hidupin lampu samping, buang sampah dari jendela Mercynya, terobos lampu merah, gak segan-segan nglakson kendaraan yang mengganggu jalannya, nah liat aja platnya, apakah BL xxx AQ, kalo iya biarin aja, Orang Kaya Baru itu, belum pernah punya mobil… :)





Kembali ke Sabang, Sabang juga terkenal dengan durian kecilnya, berhubung saya tidak suka durian, jadi gak usah kita bahas mendetail..yang bagus untuk dinikmati, ikan-ikannya, mancing aja, anda akan mudah mendapatkan ikan-ikan di Sabang, mana tau dapat putri duyung.. (terutama di Pantai Ujung Kareung)







Sediakan waktu sehari untuk berkeliling pulau Weh, main-main ke Nol Kilometer di ujung pulau, Lhoong Angen di Barat Weh, hutan wisata Iboih, Gua Sarang, air terjun, Sumur Tiga, Pantai Kasih, Pantai tapak gajah, Anoi Hitam(bekas peninggalan benda-benda jaman perang dunia II, Ujung Seuke dan sumber air panas Paya Keuneukai, sangat banyak pesona pantai di Sabang, selamat menikmati..





Konon kisahnya dahulu kala, Pulau Weh itu sebenarnya bersatu dengan Pulau Sumatera. Namun dalam sebuah gempa bumi dahsyat, keduanya terpisah seperti kondisi sekarang yang berjarak 18 mil! Akibat gempa itu lagi, Pulau Weh menjadi tandus dan gersang.
Lalu ada seorang putri jelita di Pulau Weh yang meminta pada Tuhan agar Pulau Weh tidak gersang. Ia lalu membuang seluruh perhiasannya ke laut sebagai "kaulnya". Kemudian hujan pun turun, disusul gempa bumi. Akhirnya terbentuklah sebuah danau yang kemudian diberi nama Aneuk Laot di tengah-tengah pulau itu. Putri itu sendiri kemudian terjun ke laut.

Tak usah dipermasalahkan benar-tidaknya, sebab namanya saja legenda. Tetapi yang pasti Danau Aneuk Laot seluas 30 hektar itu masih ada hingga sekarang. Dengan kapasitas air 7 juta ton, danau itu menjadi sumber air minum utama penduduk Sabang. Sementara sumber cadangan air datang dari empat danau lagi, Danau Paya Seunara, Paya Karieng, Paya Peuteupen dan Paya Seumesi.

Kota Sabang sebelum Perang Dunia II adalah kota pelabuhan terpenting dibandingkan Temasek (sekarang Singapura). Sabang telah dikenal luas sebagai pelabuhan alam bernama Kolen Station oleh pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1881. Pada tahun 1887, Firma Delange dibantu Sabang Haven memperoleh kewenangan menambah, membangun fasilitas dan sarana penunjang pelabuhan. Era pelabuhan bebas di Sabang dimulai pada tahun 1895, dikenal dengan istilah vrij haven dan dikelola Maatschaappij Zeehaven en Kolen Station yang selanjutnya dikenal dengan nama Sabang Maatschaappij. Perang Dunia II ikut mempengaruhi kondisi Sabang dimana pada tahun 1942 Sabang diduduki pasukan Jepang, kemudian dibombardir pesawat Sekutu dan mengalami kerusakan fisik hingga kemudian terpaksa ditutup.







Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, Sabang menjadi pusat Pertahanan Angkatan Laut Republik Indonesia Serikat (RIS). Semua aset Pelabuhan Sabang Maatschaappij dibeli Pemerintah Indonesia. Kemudian pada tahun 1965 dibentuk pemerintahan Kotapraja Sabang dan dirintisnya gagasan awal untuk membuka kembali sebagai Pelabuhan Bebas dan Kawasan Perdagangan Bebas.





Orang Sabang, biasa tidak melaut di hari jumat, baik nelayan, maupun yang empunya kapal untuk wisatawan, biasanya ini perintah panglima. Kata “panglima” yang dimaksud adalah ketua adat yang harus mengelola wilayah laut. Kata itu sudah sejak lama digunakan pada masa Kerajaan Aceh pimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Waktu itu panglima laut adalah penguasa laut, tetapi sekarang bergeser menjadi pengelola wilayah laut. Berbagai informasi soal hukum adat laut, fenomena alam, kearifan lokal yang telah dikumpulkan dapat dibaca dalam buku “Hukum Adat Laut Sabang, Kearifan-kearifan yang Terlupakan”, pengarangnya lupa, tapi kalo mau baca, gak ada di Gramedia, adanya di Perpustakaan Ali hasjimi di Keutapang, atau di PDIA di Blang Padang, dan berbagai perpustakaan daerah di Banda Aceh. Kalo mau pinjam sih, fotocopynya ada di ruang baca di rumah saya..haha…

Setelah mengupas keindahan pantai, kekayaan dalam laut, hutan dan alam Sabang, juga udah mengetahui sejarah Sabang dan sebagian adat Sabang, sekarang kita membahas informasi-informasi yang ada di Sabang, sesama petualang harus berbagi informasi kepada yang lainnya..



Untuk tempat menginap, ada penginapan sederhana (tarif di bawah Rp 200.000/malam) seperti losmen2, di Iboih terdapat sejumlah penginapan berupa bungalow sederhana beratap ijuk dengan tarif sekitar Rp. 80,000an. Penginapan di Gapang juga merupakan bungalow yang banyak terdapat di sepanjang pantai dengan tarif sekitar Rp 100,000. Hotel dengan kondisi yang lebih baik adalah Gapang Beach Hotel dengan tarif mulai dari Rp. 200,000. Kalo mau nginap di Gapang, bisa hubungi bu Minah di 081360272270, kalo mau di Pantai Sumur tiga bisa ke 081360255001 (Freddy Guest House), ada juga Casanemo di 08136299942. Tapi kalo mau tips dan trik serta dapat biaya murah semua peralatan diving dan surfing, bisa ke Pak Mus, di 08126922711. Kalo yang ini saya gak jamin bisa, soalnya hanya orang-orang tertentu dan kenal aja yang bisa dapat, hahahahahaha (tertawa puas…). Tempat makan, banyaknya di Kota Sabang, kalo di kota lain ada juga sih, tapi ya rada-rada gimana gitu..

Setelah puas di Sabang, saatnya pulang, ingat istri dan anak di rumah, haha.. kapal dari Sabang ke banda aceh ada yang jam 4 sore dan 8 pagi (kapal cepat), ada yang jam 2 siang, kapal lambat. Kalo bawa mobil, disarankan untuk mengantri mobil lebih awal di pelabuhan, mengingat antrian yang sangat panjang, demikian juga di Banda Aceh. Sampai banda Aceh, bersiap pulang, dan istirahat, besoknya siap-siap aja pegal seluruh badan, namun udah punya pengalaman menarik, mengunjungi kilometer nol nusantara dengan berjuta keindahan sang maha pencipta. Sabang, dari Nol Kilometer, hingga Jutaan Keindahan.

#IREKA SALSABILA
»»  READMORE...